Oleh :

Faisal Amien Prawira (Ketua Umum DPD IMM Jawa Barat)

 

“Bukanlah spesies yang paling kuat atau paling cerdas yang mampu survive, tapi mereka yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan.” – Charles Darwin.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi Gerakan mahasiswa Islam yang sekaligus juga merupakan organisasi otonom Persyarikatan Muhammadiyah. Dalam prakteknya, IMM tidak hanya berperan sebagai Gerakan intelektual namun juga Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahyi Munkar. Peran IMM sebagai Gerakan Dakwah tersebut tidak serta-merta membuat IMM berkutat hanya dalam penggalangan seruan-seruan atau narasi-narasi teologis, tetapi lebih jauh dari itu Gerakan IMM memili kiorientasi untuk mencetak generasi muda yang berkarakter dan berkompetensi yang diharapkan mampu untuk menjadi tampuk Pimpinan Umat, Persyarikatan dan Bangsa kelak.

Namun, tujuan serta orientasi yang mulia ini tentu tidak cukup hanya digaungkan dalam forum-forum organisasi seperti rapat atau musyawarah semata. Tujuan serta orientasi yang mulia ini perlu dibumikan serta dibuktikan kedalam sebuah Gerakan praktis yang didasarkan pada Gerakan Intelektual dan Humanitas yang sarat akan nilai-nilai Spiritual IMM itu sendiri.

Dalam kiprahnya, IMM sudah menginjak usia yang ke 59 tahun. Sebagai organisasi yang sudah setengah abad malang melintang didunia pergerakan tentu banyak sekali dinamika yang terjadi dalam tubuh IMM itu sendiri baik secara internal maupun eksternal, khususnya di era disrupsi seperti sekarang ini.

Rhenald Khasali dalam bukunya Disruption, secara apik menggambarkan fenomena disrupsi sebagai sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh system lama dengan cara-cara yang baru. Tentu fenomena ini menjadi penting untuk diterjemahkan oleh IMM sebagai sebuah Gerakan yang dituntut untuk menciptakan solusi dari setiap permasalahan yang ada di masyarakat.

Namun, IMM sebagai sebuah Gerakan mahasiswa nampaknya belum optimal dalam menterjemahkan serta menciptakan solusi dari setiap fenomena ataupun realitas sosial yang terjadi di era Disrupsi ini. Dalam peristiwa Covid-19 misalnya, hampir semua organisasi mahasiswa, khususnya IMM Jawa Barat terkesan gagap dalam menghadapi situasi pandemic covid-19 kemarin. Banyak agenda-agenda strategis dan agenda kaderisasi yang harus tertunda karena organisasi dan kader-kader IMM di Jawa Barat kurang mampu untuk membaca disrupsi yang ada dan terlambat melakukan transformasi Gerakan.

Transformasi Gerakan IMM yang dimaksud bukan berarti menjadikan IMM tidak punya pijakan fundamental terkait arah geraknya, tetapi justru dengan nilai-nilai fundamental dan ideologisnya IMM mampu menjadi organisasi yang dinamis dan lebih adaptif. Dengan Transformasi Gerakan IMM yang baik, kader-kader IMM Jawa Barat ke depan tidak hanya mampu menterjemahkan segala perubahan yang terjadi, namun dapat beradaptasi serta merancang solusi-solusi untuk segala perubahan dan ketidakpastian yang terjadi di era disrupsi ini.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Darwin bahwa “Bukanlah spesies yang paling kuat atau paling cerdas yang mampu survive, tapi mereka yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan. ”Maka sebesar apapun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau bahkan Muhammadiyah itu sendiri, tanpa adanya transformasi Gerakan yang baik di era disrupsi ini maka kita hanya akan menjadi organisasi yang pelan-pelan tergerus zaman dan dilupakan sejarah.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply